Trangic Night Episode 4 (Pengkhianatan Adit)
Saat ini Dian sedang di Pelabuhan mencari ponselnya. Lokasi yang terlacak tadi menunjukkkan bahwa ponselnya berada pada Pelabuhan. Itu berarti ponselnya masih berada dalam Kapal itu. Dia harus segera menemukan ponselnya sebelum ada orang lain yang menemukannya. Dengan penyamaran yang cukup, Dian segera menaiki Kapal itu sebelum Kapal berangkat.
Di bagian lain Pelabuhan, Laras dan Adit juga sedang mencari-cari Kapal itu dan
setelah melihat Kapal akan segera berangkat, mereka segera menutupi diri dan mengelabui
petugas dengan cepat sehingga bisa masuk tanpa tiket. Kapal pun segera
berangkat menuju Pulau seribu.
Tujuan utama Dian yaitu ruang Aula, ia segera pergi ke ruangan itu dan mencari
ponselnya. Beruntungnya, ia menemukan ponselnya yang terjatuh di bawah meja
besar di ruangan itu. Ia segera mengambilnya dan buru-buru keluar dari ruangan
itu sebelum ada seseorang yang memergokinya. Di tempat yang sama, ada seorang
pria yang melihat tingkah Dian dengan raut wajah misterius.
Laras dan Adit segera berpencar dan mengelilingi Kapal
setelah Kapal mulai berangkat. Laras pergi kearah lantai bawah dan Adit mengarah ke lantai
atas. Mereka mencari hingga ke sudut ruangan namun tidak menemukan satupun hal
yang mencurigakan di Kapal. Saat mencari, Laras mendapat pesan masuk yang berpesan agar tidak boleh
mempercayai Adit sedikitpun dan memata-matai Adit diam-diam.
Saat sedang membaca pesan itu, Adit datang tiba-tiba dan mengejutkannya. Laras menjawab dengan gugup bahwa tidak terjadi apa-apa dan
masih belum menemukan satupun hal yang mencurigakan sejak naik ke Kapal. Adit
hanya mengiyakan dan menyuruh Laras agar istirahat dahulu karena sejak tadi ia belum
istirahat sedikitpun. Laras hanya mengiyakan dan segera pergi ke kamarnya.
Setelah merasa Adit pergi dan tidak melihatnya lagi,
ia segera mengikuti Adit diam-diam. Ia melihat Adit yang sembunyi-sembunyi
melihat seseorang. Ini sangat mencurigakan. Apa yang dilihat Adit hingga
sembunyi-sembunyi seperti ini. Ia hanya melihat seseorang dengan masker dan
topi yang sedang duduk menatap gelapnya malam. Laras sangat penasaran dan entah kenapa merasa panas
melihat hal ini. Terutama saat melihat Adit yang tersenyum menatap orang di
depannya. Karena tidak tahan, Laras segera pergi dari tempat itu.
Di tempat yang sama, Dian merasa ada yang memperhatikannya sejak di atas Kapal.
Seharusnya ia merasa takut identitasnya akan ketahuan, namun entah kenapa dia
merasa senang ada yang memperhatikannya. Perasaan yang aneh tapi entah kenapa
sangat nyata. Karena merasa penasaran, Dian segera melihat orang yang menatapnya sedari tadi itu
yang ternyata adalah Adit. Dian segera melarikan diri namun Adit mengejar dan
menangkapnya.
“Kau tidak usah takut padaku, Aku tidak seperti
mereka” jelas Adit.
“Lalu kenapa Kau selalu mengikutiku selama ini. Kau
ingin menangkapku bukan lalu Kalian juga akan membunuhku seperti mereka” jawab Dian ketakutan. Adit segera memeluknya.
“Tenang saja, Aku tidak akan membunuhmu. Aku akan
membantumu agar Kau bisa kabur. Aku tidak akan menyakitimu, percayalah padaku”
ucap Adit menenangkan Dian.
“Aku tidak akan mempercayai seorangpun lagi, Aku tidak
bisa, Kita juga tidak memiliki hubungan untuk saling membantu” jawab Dian melepaskan diri dari pelukan Adit. Ia segera berbalik
dan akan pergi hingga suara Adit membuatnya berhenti.
“Aku mencintaimu, tidak mungkin Aku akan membiarkanmu
terluka. Percayalah padaku. Besok pagi, segeralah naik ke atas perahu nelayan
nanti. Aku akan membantumu naik sebelum Laras mengetahui keberadaanmu. Dia juga berada dalam Kapal
ini, jadi usahakan jangan sampai ketahuan” ucap Adit lagi kemudian pergi
meninggalkan Dian sendirian.
Dian bingung, Otaknya mengatakan jangan mempercayai ucapan
Adit, namun hatinya berkata lain. Ia tidak ingin mempercayai lagi ucapan orang
lain. Ia tidak ingin terjerumus dalam bahaya lagi. Namun, ucapan Adit terdengar
meyakinkan.
Saat pagi menjelang,
Dian memilih
mempercayai ucapan Adit dan menunggu Adit
di lantai bawah Kapal. Adit yang menunggu kedatangan Dian segera tersenyum melihat Dian dan segera menepati ucapannya bahwa akan membantu Dian melarikan diri. Dian segera menaiki perahu Nelayan itu.
Tanpa mereka berdua sadari, Laras sedang melihat mereka dan segera melaporkan hal ini
pada Anis. Anis yang mengetahui hal ini merasa marah dan menyuruh Hendrik agar
mengecek semua perahu Nelayan yang dinaiki Dian. Tanpa mereka sadari, ternyata Adit memiliki rencana
lain. Ia mengetahui Laras akan mengikutinya sehingga ia mengubah rencananya
dengan menyuruh Dian pura-pura menaiki perahu Nelayan namun sebenarnya Dian tetap di dalam Kapal. Ia bersembunyi seperti di dalam
lemari saat itu hingga Kapal ini benar-benar berhenti.
Anis yang merasa dibohongi oleh Laras merasa geram dan langsung membunuh Laras setelah dia sampai. Ia mengira ucapan Laras hanya kecemburuan belaka saja sesuai ucapan Adit yang
mengatakan saat itu Laras melihatnya dengan seorang wanita. Anis mengatakan
pada Adit, Hendrik dan April. Jika mereka membohonginya, maka mereka akan
berakhir tragis seperti yang dialami Laras. Karena takut, mereka segera mengiyakan ucapan Anis.
Di tempat lain, Dian segera memperbaiki ponselnya dan melihat rekaman
pembunuhan yang terjadi hari itu. Tanpa terasa tubuhnya gemetar ketakutan. Ia
tidak sanggup mendengar suara teriakan dari para korban yang mereka bunuh saat
itu. Ia segera pergi ke ruang bawah tanah rumahnya dan menyusun rencana
penangkapan mereka.
Dari belakang Dian ada seorang wanita yang mengikutinya sedari tadi. Ia adalah Syen yang disuruh Anis agar memata-matai Dian. Syen mengetahui lokasi Dian dengan cepat lewat GPS yang
dikirimkan April padanya.
Anis ternyata lebihi licik dari Adit. Ia berpura-pura
mempercayai ucapan Adit dengan membunuh Laras. Ia menyusun rencana yang lebih kejam dari yang Adit
pikirkan. Anis berpikir agar Adit tidak bersikap
was-was padanya dan segera menangkapnya saat Adit tidak waspada. Anis mengurung
Adit dalam sebuah ruangan dengan tangan terikat dan tubuh penuh bekas cambukan
dari Anis.
Anis mengetahui fakta bahwa Dian masih hidup dari April. April mengatakan bahwa ponsel
Dian terlihat bisa dihubungi. Ia segera melaporkan hal ini
pada Anis sehingga Anis segera mengambil tindakan untuk menangkap Dian.
April merekam kejadian itu dan mengirimkannya pada Dian. Ia mengirim pesan agar Dian
segera datang jika tidak ingin
melihat Adit mati menggenaskan. Dian yang melihat pesan itu langsung kalut. Ia takut jika
terjadi sesuatu pada Adit. Dia tidak ingin kehilangan lagi seseorang untuk yang
kedua kalinya. Ia segera mungkin menuju rumahnya melewati jalan yang dipenuhi
keramaian. Ia melakukan ini agar Syen yang mengikutinya
sedari tadi tidak bisa
menangkapnya. Syen yang terkecoh dalam sekejap kehilangan
Dian. Syen merasa marah dan segera memeriksa kembali GPS-nya kembali. Ternyata Dian meninggalkan ponselnya dalam sebuah mobil angkutan agar Syen tidak bisa mengejarnya lagi.
Dian yang berhasil kabur, segera pergi ke Kantor polisi
dan meketakkan bukti pembunuhan berupa rekaman dan surat begitu saja. Ia segera
pergi dan menuju markas MORIRE dengan persiapan senjata di dalam saku bajunya. Ia bertekad agar menolong
Adit. Ia tidak ingin ingin merasa bersalah lagi. Ia tidak akan diam lagi dan
hanya melihat pembunuhan itu terjadi tanpa berbuat apa-apa. Anis yang
mengetahui Dian telah datang langsung menyambutnya.
Komentar
Posting Komentar