Tragic Night Episode 3 (Pencarian Bukti)
Setelah terbangun dari tidurku, Aku langsung keluar dari dalam lemari itu. Lemari ini ternyata merupakan barang dagangan pemilik Kapal, sehingga Lemari ini membawaku ke sebuah gudang penyimpanan barang.
Aku berusaha untuk
keluar dari gudang ini melewati sebuah jendela yang terdapat pada gudang
tersebut. Aku berjalan hingga tiba di permukiman kota. Aku melihat tanggal dan
waktu sekarang, yang berada di tengah-tengah kota. Aku juga melihat berita dari
televisi besar yang dipasang di jalanan tentang menghilangnya para calon
Relawan di pulau tiga. Ingatan di malam itu muncul seketika dan tanpa kusadari
Aku gemetar ketakutan dan terduduk di jalanan.
Orang-orang yang
berlalu lalang hanya melihatku dan menatapku kasihan. Aku tidak perduli dengan
tatapan mereka dan hanya gemetar ketakutan. Aku memang tidak melihatnya, tapi
Aku tahu para Relawan itu pasti bukan menghilang melainkan dibunuh.
Aku sadar bahwa
ini bukan saatnya menangisi kejadian itu. Aku harus mengungkapkan kebenaran dan
menangkap para pelaku pembunuhan itu. Sekarang hal yang harus kulakukan pertama
kali adalah pergi ke rumahku diam-diam dan melihat situasi di sekitar rumahku
lebih dahulu, karena Aku yakin saat ini para pembunuh itu sedang mencari
keberadaanku yang menghilang tiba-tiba. Mereka juga pasti sedang mengintai
rumahku.
Saat tiba di depan
rumahku, Aku meloncati pohon dibelakang rumahku dan masuk ke rumah dengan
menaiki pohon itu. Kemudian Aku melewati ruang bawah tanah, dimana terdapat
tangga menuju kamarku. Aku segera menuju komputerku untuk melacak ponselku yang
ketinggalan saat itu di kapal, karena bukti satu-satunya sekarang adalah
ponselku. Aku ingat saat itu Aku merekam perkenalan Organisasi itu, dan Aku
lupa mematikan rekaman itu. Jadi, Aku yakin percakapan mereka masih terekam
oleh ponselku saat itu. Sekarang yang harus kulakukan adalah menemukan
ponselku. Saat menunggu proses pelacakan selesai, Aku mendengar suara percakapan
di luar kamarku. Aku segera mengcopi data ke flashku dan segera mengambil
ipadku di laci tidak lupa juga Aku mematikan komputerku. Suara itu semakin
mendekat hingga Aku segera bersembunyi kembali di balik pintu menuju ruang
bawah tanah.
“Kalian periksa
saja barang-barang kalian di kamarnya, Aku akan menunggu di luar” terdengar suara Ayahku entah pada siapa.
“Baik Paman. Setelah selesai Kita langsung keluar”
ucap sebuah suara yang kutahu itu merupakan suara April.
“Kau periksa bagian lemari, Aku akan memeriksa tempat
tidurnya. Lakukan dengan cepat agar mereka tidak curiga” perintah April pada
Hendrik. Hendrik langsung mengiyakan. Apa yang mereka cari di kamarku.
Seingatku Aku tidak pernah meminjam barang mereka. Entah kenapa perasaanku
tidak enak.
“Tapi Aku penasaran, apakah kalian benar-benar yakin April mengetahui sesuatu” tanya Hendrik penasaran.
“Aku juga kurang yakin, tapi tidak mungkin Dia menghilang
tiba-tiba seperti itu” jawab April.
“Aku curiga Kak Adit yang menyembunyikannya. Kau
lihat saat Dian memperkenalkan diri, Kak Adit terus menatapnya. Mungkin dia menyembunyikannya agar Kak Anis tidak
membunuhnya. Kau tau kan, Kak Anis tidak pernah menyisakan seseorang dan lebih
memilih membunuh semuanya” balas Hendrik.
“Aku tidak tau, Kita kerjakan saja tugas ini lalu
kembali” ucap April.
Sepertinya mereka sedang mencariku dan mencurigaiku
saat ini. Aku tidak boleh ketahuan sekarang agar Aku bisa membuktikan dan
membuat mereka menderita seperti orang-orang yang mereka bunuh. Lebih baik Aku
segera pergi dari sini sebelum ketahuan.
Markas Organisasi MORIRE hitam gelap dan terlihat seperti sebuah gudang tua.
Disini merupakan tempat berkumpul para anggota MORIRE. Dalam Organisasi ini Syen,
Anis, Laras, Adit, April dan Hendrik sebagai anggotanya. Ketua
Organisasi ini sangat misterius bahkan para anggota belum pernah bertemu
dengannya. Mereka hanya berkomunikasi lewat sebuah telepon yang menjadi ciri khas Organisasi MORIRE.
Saat ini para anggota MORIRE kecuali
Syen sedang berkumpul
untuk mendiskusikan kasus di pulau tiga kemarin. Kali ini kasusnya sangat
berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya karena saat itu masih ada satu orang yang
lolos dan hingga sekarang belum diketahui lokasinya. Mereka harus segera
menemukannya sebelum hal ini sampai ke telinga Ketua mereka.
“Apakah mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan di
rumahnya?” tanya Anis pada Laras dan Adit memecah keheningan.
“Masih belum ada informasi dari mereka” jawab Laras. Keadaan kembali hening hingga terdapat panggilan
masuk dari Hendrik.
“Kita tidak mendapatkan apa-apa di rumahnya. Namun,
Kita menemukan bahwa komputernya menyala tiga menit sebelum Kita masuk ke
kamarnya. Sedangkan di dalam kamarnya tidak ada siapa-siapa dan Orang tuanya
sedari tadi dengan Kita” ucap Hendrik.
“Ini merupakan bukti bahwa Gadis itu kemungkinan masih
hidup. Kalian kembalilah setelah memeriksa semua barang di Kapal saat itu”
perintah Anis pada Hendrik dan April.
“Lalu kalian berdua, periksa kembali kapal itu
diam-diam tanpa diketahui siapapun” perintahnya lagi pada Laras dan Adit. Mereka berdua segera pergi menjalankan
tugas mereka.
“Aku tidak akan membiarkan Organisasi ini hancur hanya
karena seorang Gadis” ucap Anis sambil mengepalkan tangannya.
Komentar
Posting Komentar