Tragic Night Episode 2 (Malam Kejadian)

Hari ini merupakan keberangkatan Kami menuju Pulau Tiga, yang akan menjadi tempat Kami bertugas. Para Calon Relawan yang akan berangkat hari ini mencapai 25 peserta. Setelah para Petugas mengecek nama-nama Calon Relawan yang akan bertugas, Kami semua naik ke Kapal yang akan membawa Kita ke Pulau. Perjalanan menuju Pulau yaitu sekitar dua hari.

Saat Kami semua selesai meletakkan barang-barang Kami di kamar masing-masing, Kami disuruh berkumpul di ruang Aula Kapal untuk memperkenalkan diri dan para Petugas akan mengenalkan Kami tentang tugas-tugas yang nantinya akan Kami kerjakan. Organisasi ini terdiri dari beberapa anggota yaitu Kak Syen, Kak Anis, kak Adit dan Kak Laras. Ketua Organisasi ini tidak disebutkan namanya membuat Kami penasaran dan bertanya, namun mereka seperti menyembunyikan hal ini dari Kami. Sesi perkenalan diri berakhir dan berlanjut malam nanti. Kita dipersilahkan agar beristirahat hingga malam tiba.

 

Saat Aku sedang membereskan barang-barangku, Aku lupa ponselku ketinggalan di ruang Aula. Tadinya Aku berencana merekam percakapan saat perkenalan Organisasi sehingga Aku bisa mempelajarinya nanti. Aku segera masuk kembali ke dalam ruang Aula. Saat Aku sedang mencari ponselku, tiba-tiba ada suara di sebuah lemari yang ada di Aula itu. Aku merasa ada yang aneh dengan lemari itu dan membukanya. Tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang berdiskusi dan karena takut Aku langsung masuk ke dalam lemari dan menguncinya dari dalam.

Ternyata suara itu berasal dari para anggota Organisasi termasuk April dan Hendrik. Aku melihat mereka bingung, karena bagaimana bisa Kakak-kakak itu mengobrol dengan April dan Hendrik seperti telah kenal lama saja. Yang kutahu, April dan Hendrik juga tidak saling mengenal, jadi bagaimana bisa mereka seakrab itu. Ucapan-ucapan mereka tentang rencana itu semakin kudengar, semakin Aku merinding mendengarnya.

“Pokoknya, mereka harus mati malam ini juga. Kalian tidak lupa kan dengan rencana Kita?” tanya Kak Syen dengan raut wajah yang mengerikan.

“Aku tahu Kak, Kita harus menyelesaikan ini secara diam-diam agar Ketua nantinya senang dengan kerja Kita” ucap Kak Anis sambil tersenyum mengerikan.

 

Mereka melanjutkan pembicaraan tentang rencana nanti malam. Mereka berencana mengunci para calon Relawan di ruangan ini dan membuat mereka ketakutan dengan tangan yang terikat. Mereka membuat seakan-akan sedang dalam sebuah permainan lalu setelah itu mereka berencana membunuh para Relawan itu sesuai urutan pemenang permainan, tanpa terkecuali si pemenang permainan itu. Tubuh mereka nantinya akan dijadikan persembahan untuk para penghuni pulau nanti. Aku tertegun mendengar perkataannya, Aku ketakutan, mulutku seperti terkunci. Aku ingin memberitahu semua orang bahwa mereka adalah penipu. Organisasi ini ternyata merupakan perkumpulan para pembunuh yang disewa oleh pulau-pulau yang sedang melakukan persembahan termasuk salah satunya pulau tiga, pulau yang akan kami tuju. Tiap tahunnya mereka membuka kegiatan dengan membawa-bawa nama Relawan yang ternyata semua itu hanya tipu muslihat mereka.

Mereka juga mengatakan arti dari nama organisasi mereka, MORIRE yang berarti mati dalam bahasa Italia. Aku merasa tertipu dengan ini semua, terutama pada April dan Hendrik. Saat kita saling menebak arti nama dari organisasi ini, mereka menjawab dengan lelucon bahwa artinya adalah mati. Saat itu Kita juga tidak terlalu perduli dan malah tertawa mendengar ucapan mereka. Andai Aku bisa membalik waktu, Andai Aku tidak meremehkan perkataan mereka waktu itu, mungkin Aku tidak akan berada dalam situasi ini.

Aku mengingat teman-temanku. Bagaimana nasib mereka nanti, bagaimana dengan orang-orang yang tertipu itu, bagaimana perasaan keluarga yang mereka tinggalkan hanya demi tugas Relawan ini. Aku tidak tahu harus melakukan apa, Aku tidak tahu bagaimana caraku agar menyampaikan ini pada mereka. Aku berencana menunggu mereka keluar dari ruangan ini agar Aku bisa cepat menyelamatkan teman-temanku dan para calon Relawan itu.

Namun, Aku tidak dapat berbuat apa-apa hingga malam pun tiba. Penyakit Kleine-Levin Syndrome yang kuidap selama ini kambuh di saat yang tidak tepat. Aku tertidur begitu lamanya tanpa terasa tiga hari telah berlalu tanpa kusadari.

Komentar