Tragic Night Episode 1 (Awal)

Hari ini merupakan hari kenaikan kelas di sekolah Kami. Saat sedang menunggu hasil rapat para orang tua murid dengan wali kelas kami, Fika datang membawa informasi tentang Organisasi MORIRE. Kata Fika Organisasi ini akan melakukan kegiatan untuk mengangkat para Relawan, dan minimal usia untuk para Relawan yang mendaftar adalah 15 tahun. Fika mengajak Kami agar mengikuti kegiatan itu.

“Teman-teman, kalian pernah mendengar Organisasi MORIRE? Katanya, saat ini mereka akan melakukan kegiatan kerelawanan. Nantinya, akan dipilih para calon relawan dan ditempatkan di pulau masing-masing menjadi Relawan dan para Relawan akn digaji sesuai tugas” ajak Fika pada Kami.

“Benarkah, ayo kita ikut” ucap Sasha bersemangat.

“Aku ingin ikut, tapi sepertinya orang tuaku tidak akan mengizinkanku” ucap Gina.

“Aku sepertinya ikut kan lumayan uangnya bisa beli konser BTS september nanti” ucap April cengengesan.

“Dasar Kau ini” ucapku sambil menoyor kepala April. “Kalau Aku sih ikut. Yaahh, kalian tahu sendiri rumahku bagaimana. Jadi, lebih baik Aku mencari suasana yang baru di liburan kali ini” lanjutku.

“Aku juga ikut, lumayan uangnya kan” jawab Yudha, Sani dan Farid mengikuti.

“Ok, selesai ini ayo kita mendaftar sama-sama agar lokasi kita nanti sama” ucap Fika bersemangat.

 

Setelah pembagian rapot tadi, Aku, Fika, April, Sasha, Yudha, Sani dan Farid mendatangi tempat untuk pendaftaran Relawan. Persyaratannya hanya membawa Kartu Siswa saja setelah sampai disana, ternyata banyak yang mencalonkan diri menjadi Relawan, baik dari para siswa maupun orang dewasa yang selama ini menganggur. Ternyata kegiatan ini banyak memberi manfaat, terutama bagi para pengangguran.

Disana, Aku juga berpapasan dengan musuh lamaku saat kecil. Mereka adalah Mega, Dio dan Hendrik. Dulu mereka sangat nakal dan kerjanya hanya mencuri barang-barang di rumahku. Orang tuaku juga sangat sibuk sehingga tidak pernah merasa kehilangan barang berharga mereka. Bahkan, jika Aku menghilang pun mereka tidak akan mencariku.

“Hei Dian, Kamu ikut kegiatan ini juga. Bukannya uangmu banyak, atau orangtuamu sudah bangkrut” ucap Dio menertawakanku. Aku tidak perduli dengan ucapan mereka dan memilih mendengar musik lewat earphone.

“Waahh, Dia sudah pintar rupanya. Bukannya dulu kau selalu mengikuti Kami dan merengek agar bermain dengan Kami. Bahkan mau disuruh-suruh” Ucap Hendrik sambil tertawa. Teman-temanku yang tadinya memilih diam, kini balik membalas perkataan mereka.

“Ternyata usia bukan ukuran orang itu dewasa ya, walaupun sudah tuapun masih bisa bersikap kekanak-kanakan” ucap Yudha sinis.

“Apa maksudmu haahh?” balas Dio tidak terima.

“Sudahlah Yud, Kita harus mengalah pada anak kecil, kan” ucap April mengejek. Beberapa saat kemudian, nama Kami dipanggil oleh petugas pendaftaran, meninggalkan mereka yang kesal dengan perkataan  teman-temanku tadi.

Setelah melihat nama Kami semua terdaftar sebagai calon Relawan, Petugas itu berkata agar hari minggu nanti Kita bersiap untuk pergi ke tempat tugas Kami. Tempat tugas Kami semua sama termasuk juga Mega, Dio dan Hendrik.

Komentar