Tragic Night End (Pengungkapan)
“Akhirnya kau datang juga. Pasti Kau khawatir kekasihmu yang bodoh itu akan terluka. Atau, Kau ingin pergi ke akhirat bersama dengan kekasihmu itu” ucap Anis sambil tersenyum.
“Aku datang bukan untuk
menyerahkan diri. Lebih tepatnya, Aku datang untuk membalaskan dendam
teman-temanku” jawab Dian sambil menembakkan pistolnya dengan cepat pada Anis.
Anis yang tidak sempat menghindar terjatuh dengan bagian kepala yang tertembak
pistol Dian. April dan Hendrik segera mengambil senjata mereka dan
menodongkannya pada Dian. Dengan gerakan cepat Dian menunduk dan menembak
bagian Kaki mereka berdua secara cepat. April dan Hendrik merintih kesakitan,
Dian segera mengambil senjata mereka berdua dan menodongkan senjatanya ke
kepala mereka berdua. Adit terkejut dengan sikap Dian. Ia tidak mengira Dian
sangat pintar dengan pistol.
Suara sirine
Polisi terdengar, Dian segera menyerahkan mereka berdua pada Polisi dan segera
melepaskan ikatan Adit. Suara tembakan terdengar menembus dada Adit. Dian yang
terkejut segera melihat pelaku penembakan tersebut yang ternyata adalah
perbuatan Syen. Dian yang marah segera mengambil pistolnya dan akan menembak
kepala Syen hingga suara Adit menghentikannya.
“Hentikan, ini
semua adalah balasan atas dosa-dosaku selama ini. Kau tidak boleh menodai
tanganmu lagi dengan darah mereka” ucap Adit tersenyum sambil mengelus pipi
Dian. Dian hanya menangis melihat keadaan Adit yang kesakitan.
“Aku mencintaimu,
mungkin ini merupakan ucapan terakhirku padamu. Mulai sekarang, hiduplah dengan
baik. Tersenyumlah jika kau bahagia dan menangislah jika kadu sedih. Jika kau
marah keluarkan amarahmu. Jangan menyimpannya sendirian lagi” ucap Adit terputus-putus
sambil menahan rasa sakitnya.
“Tidak, Kau belum
boleh mati. Kau harus hidup agar Aku juga bisa hidup. Aku bahkan belum
mengatakan Aku mencintaimu juga. Jadi, jangan tinggalkan Aku seperti ini” jawab
Dian sambil menangis sesenggukan.
“Aku senang
mendengarnya. Akhirnya Aku mendengar kata itu juga, Kau mencintaiku saja itu
sudah cukup bagiku” ucap Adit kemudian menutup matanya untuk terakhir kalinya.
Dian menangis histeris sambil memeluk tubuh Adit yang dingin. Pelukannya yang
hangat kini berubah dingin.
Berakhir
Kasus pembunuhan
itu kini telah terungkap. Keluarga para korban Calon Relawan yang mengetahui
keluarganya telah meninggal menangis histeris. Demo terjadi dimana-mana karena
kejadian itu. Banyak keluarga yang tidak terima dan melampiaskan kemarahan
mereka kepada Pemerintah. Mereka ingin agar Para penjahat yang masih hidup itu
menerima hukuman mati.
Setelah kejadian
itu, Sikap Dian mulai berubah. Wajah yang dulunya datar itu kini selalu
tersenyum. Ia kini mengetahui sesuatu, yaitu tidak boleh menyia-nyiakan
kesempatan yang ada. Ia menyesali kejadian saat di Kapal. Jika saja Ia
mengiyakan ajakan kencan Adit di Kapal saat itu, mungkin tidak akan ada
penyesalan yang tersisa di hatinya. Yaaahh, penyesalan memang selalu terjadi
saat sudah kehilangan sesuatu.
Sama halnya para
Keluarga para Calon relawan itu. Seandainya mereka melarang mengikuti kegiatan
itu, mereka tidak akan kehilangan Keluarganya secara tragis seperti itu. Malam
tragis, malam penuh darah yang menghilangkan Keluarga mereka tanpa mereka
sadari.
Komentar
Posting Komentar